Saturday, 18 January 2014

sanah helwah 12 03 1435

Kau masih tersenyum mengubat lara
Selindung derita yang kau rasa
Senyuman yang mententeramkan
Setiap insan yang kebimbangan

Hakikatnya, tak tertanggung lagi derita

Di pangkuan isterimu Humaira
Menunggu saat ketikanya
Diangkat rohmu bertemu Yang Esa

Tangan dicelup di bejana air
Kau sapu di muka mengurangkan pedih
Beralun zikir menutur kasih
Pada umat dan akhirat

Dan tibalah waktu ajal bertamu
Penuh ketenangan jiwamu berlalu
Linangan air mata syahdu
Iringi pemergianmu

Oh sukarnya untuk umat menerima
Bahkan payah untuk Umar mempercaya
Tetapi iman merelakan jua
Bahawa manusia kan mati akhirnya

Tak terlafaz kata mengungkap hiba
Gerhanalah seluruh semesta
Walaupun kau telah tiada
Bersemarak cintamu selamanya

Ya Rasulallah
Kau tinggalkan kami warisan yang abadi
Dan bersaksilah sesungguhnya
Kami merinduimu


inteam - pemergianmu

Sunday, 5 January 2014

Sajak 04

dulu jiwa ini bagai helang,
seluruh ruang tajam ku pandang,
kini aku masih helang,
hanya hidangan mampu ku pandang,

dulu jiwa ini harimau belang,
sembunyi menunggu waktu menyerang,
kini aku masih sang belang,
tetap sembunyi tiada menyerang,

dulu jiwa ini bagai beruang,
gagah berani maju menyerang,
kini aku masih beruang,
hibernasi walau sudah siang,

dulu jiwa ini singa perang,
aumannya garang hatinya berang,
kini aku menjadi singa girang,
auman kedengaran di dalam kandang,

dulu jiwa ini kuda perang,
larian kencang mengegar padang,
kini aku masih kuda perang,
bunyinya kencang padangnya gendang,